Tren Wisata Indonesia 2025 Berburu Playground Lokal

Berita Lokal

Tren wisata di Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan perubahan yang semakin jelas dalam cara masyarakat merencanakan dan menikmati perjalanan. Wisata tidak lagi sekadar soal pergi jauh atau ke destinasi populer global, melainkan berburu “playground lokal” yang mudah dijangkau, fleksibel, dan relevan dengan kebutuhan liburan singkat. Perubahan ini dipengaruhi oleh faktor kalender libur nasional, kesiapan infrastruktur, hingga pergeseran preferensi wisatawan terhadap kenyamanan dan kebersamaan.

Chief Strategy Officer Tiket.com, Tifanny Tjiptoning, menjelaskan bahwa banyaknya long weekend dan libur nasional sepanjang 2025 menjadi motor utama pergerakan wisata domestik. Pola ini terlihat konsisten di hampir seluruh kategori pariwisata, mulai dari transportasi, akomodasi, hingga atraksi wisata.

“Setiap kali ada long weekend atau libur panjang nasional, selalu ada lonjakan di semua kategori pariwisata,” ujar Tifanny dalam acara tiket.com Tourism Trends 2025 & Outlook 2026 di Jakarta.

Long Weekend Jadi Pemicu Utama Perjalanan

Kalender 2025 yang relatif ramah bagi wisatawan memberikan ruang bagi masyarakat untuk melakukan perjalanan singkat namun lebih sering. Libur panjang mendorong munculnya tren micro traveling, di mana wisatawan memanfaatkan waktu dua hingga empat hari untuk berlibur tanpa perlu cuti panjang.

Destinasi yang dipilih pun cenderung berada dalam radius dekat dari kota asal. Wisatawan lebih tertarik mengunjungi kota-kota penyangga, kawasan alam terdekat, atau destinasi yang bisa dijangkau dalam waktu beberapa jam perjalanan darat. Pola ini memperkuat tren eksplorasi wisata lokal yang sebelumnya mulai tumbuh pascapandemi.

Transportasi Jadi Pertimbangan Utama

Dalam perencanaan perjalanan, transportasi menjadi faktor paling krusial bagi wisatawan sepanjang 2025. Banyak pelancong kini menyusun rencana liburan secara bertahap. Mereka cenderung mengamankan tiket transportasi terlebih dahulu sebelum memesan akomodasi atau atraksi wisata.

Menurut Tifanny, dinamika harga transportasi menjadi alasan utama pola ini. Harga tiket, terutama untuk moda tertentu, cenderung fluktuatif dan meningkat seiring mendekati tanggal keberangkatan.

“Mereka mau mengamankan dulu harga transportasi karena lebih dinamis dan semakin mendekati hari H biasanya semakin mahal,” jelasnya.

Setelah transportasi aman, barulah wisatawan melengkapi rencana perjalanan dengan memesan penginapan dan aktivitas wisata yang diinginkan.

Pergeseran ke Transportasi Darat

Salah satu tren paling menonjol di 2025 adalah meningkatnya penggunaan transportasi darat, khususnya kereta api dan bus. Pertumbuhan pembelian tiket kedua moda ini tercatat melampaui moda transportasi lainnya.

Peningkatan ini tidak lepas dari perbaikan dan perluasan infrastruktur, seperti jalan Tol Trans-Jawa dan konektivitas antarkota yang semakin baik. Perjalanan darat kini dianggap lebih praktis, ekonomis, dan fleksibel, terutama untuk liburan singkat bersama keluarga.

“Kita melihat pertumbuhannya sangat cepat, bahkan lebih tinggi dibanding moda lain. Ini mencerminkan adanya pergeseran dari transportasi udara ke transportasi darat,” kata Tifanny.

Selain faktor biaya, transportasi darat juga memberi pengalaman perjalanan yang lebih santai. Wisatawan dapat menikmati pemandangan, berhenti di beberapa titik menarik, dan menyesuaikan waktu perjalanan sesuai kebutuhan.

Akomodasi Non-Hotel Makin Diminati

Perubahan signifikan juga terjadi pada pilihan akomodasi. Sepanjang 2025, akomodasi non-hotel justru mencatat pertumbuhan paling tinggi dibandingkan hotel dan apartemen.

Data menunjukkan akomodasi non-hotel tumbuh sekitar 44 persen, jauh di atas hotel yang tumbuh 19 persen dan apartemen sebesar 13 persen. Pilihan seperti vila, homestay, dan rumah sewa menjadi favorit baru wisatawan domestik.

Tifanny menilai tren ini berkaitan erat dengan pola liburan berkelompok. Wisatawan kini lebih sering bepergian bersama keluarga besar atau kelompok pertemanan, sehingga membutuhkan ruang yang lebih luas dan privat.

“Vila atau rumah liburan memungkinkan mereka berkumpul dalam satu tempat tanpa harus terpencar di kamar hotel,” jelasnya.

Selain faktor kapasitas, akomodasi non-hotel juga menawarkan suasana yang lebih personal dan terasa “rumahan”, sesuai dengan kebutuhan wisatawan yang ingin bersantai dan menikmati waktu bersama orang terdekat.

Playground Lokal Jadi Incaran

Tren berburu playground lokal menjadi benang merah wisata 2025. Playground di sini tidak selalu berarti taman bermain, tetapi destinasi yang menawarkan pengalaman santai, ramah keluarga, dan mudah diakses.

Kafe tematik, ruang terbuka hijau, kawasan heritage, wisata alam ringan, hingga desa wisata menjadi tujuan favorit. Wisatawan mencari tempat yang bisa dinikmati tanpa tekanan waktu dan biaya besar, namun tetap memberikan pengalaman berbeda dari rutinitas sehari-hari.

Fenomena ini juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Destinasi-destinasi kecil yang sebelumnya kurang terekspos kini mendapatkan perhatian lebih besar dari wisatawan domestik.

Wisata Lebih Fleksibel dan Personal

Sepanjang 2025, wisatawan Indonesia menunjukkan kecenderungan untuk lebih fleksibel dan personal dalam berwisata. Perjalanan tidak lagi harus direncanakan jauh hari atau berskala besar. Liburan singkat, spontan, dan dekat justru menjadi pilihan utama.

Perubahan ini mencerminkan adaptasi gaya hidup masyarakat yang ingin menyeimbangkan pekerjaan, keluarga, dan waktu istirahat. Wisata bukan lagi pelarian sesaat, melainkan bagian dari rutinitas untuk menjaga kualitas hidup.

Outlook Menuju 2026

Melihat tren sepanjang 2025, wisata domestik Indonesia diperkirakan tetap kuat pada 2026. Long weekend, infrastruktur yang semakin matang, serta preferensi terhadap wisata lokal akan terus menjadi pendorong utama.

Pelaku industri pariwisata pun dituntut lebih adaptif, dengan menghadirkan produk dan layanan yang fleksibel, terjangkau, dan relevan dengan kebutuhan wisatawan modern. Playground lokal, transportasi darat, dan akomodasi non-hotel diprediksi tetap menjadi tulang punggung pertumbuhan wisata Indonesia ke depan.

Dengan pola ini, wisata tidak hanya soal tujuan, tetapi juga tentang pengalaman yang dekat, sederhana, dan bermakna.

Baca Juga : Menpar Luncurkan Wonderful Indonesia Diving Directory

Jangan Lewatkan Info Penting Dari : kalbarnews