jalanjalan-indonesia.com Perbandingan sektor pariwisata antara Indonesia dan Malaysia kembali menjadi sorotan publik. Data kunjungan wisatawan asing menunjukkan kesenjangan yang cukup mencolok. Malaysia mampu mencatat puluhan juta kunjungan wisatawan asing dalam satu tahun, sementara Indonesia masih tertinggal cukup jauh meski memiliki potensi alam dan budaya yang sangat besar.
Dalam periode yang sama, Malaysia mencatat lonjakan signifikan jumlah wisatawan mancanegara. Bahkan jutaan pengunjung berasal dari Indonesia sendiri. Fakta ini memunculkan pertanyaan besar: mengapa negara dengan jumlah pulau, keragaman budaya, dan keindahan alam seperti Indonesia justru kalah bersaing dalam menarik wisatawan asing?
Jawabannya tidak sesederhana soal destinasi. Ada banyak faktor struktural, kebijakan, dan strategi promosi yang membuat Malaysia lebih unggul dalam industri pariwisata regional.
Promosi Pariwisata Malaysia Lebih Konsisten dan Terarah
Salah satu keunggulan utama Malaysia terletak pada strategi promosi yang konsisten dan terintegrasi. Kampanye pariwisata Malaysia dilakukan secara masif, berkelanjutan, dan menyasar pasar internasional dengan pesan yang jelas. Brand pariwisata mereka dibangun dalam jangka panjang, tidak berganti arah setiap pergantian kebijakan.
Promosi tersebut tidak hanya mengandalkan pameran atau iklan konvensional, tetapi juga optimal di ranah digital. Media sosial, kolaborasi dengan influencer internasional, hingga kehadiran di platform perjalanan global dijalankan dengan strategi yang matang.
Sebaliknya, promosi pariwisata Indonesia kerap dinilai tidak berkesinambungan. Setiap periode sering kali muncul slogan baru tanpa penguatan narasi yang berkelanjutan. Hal ini membuat positioning Indonesia di mata wisatawan asing menjadi kurang kuat dan mudah terlupakan.
Akses Transportasi dan Kemudahan Masuk Negara
Faktor berikutnya adalah kemudahan akses. Malaysia dikenal memiliki konektivitas penerbangan yang sangat baik, baik untuk penerbangan internasional maupun domestik. Bandara utama terhubung langsung dengan banyak kota besar dunia, ditambah maskapai berbiaya rendah yang agresif membuka rute baru.
Selain itu, kebijakan imigrasi Malaysia cenderung ramah wisatawan. Proses masuk yang cepat, kebijakan bebas visa yang jelas, serta sistem yang tertata rapi membuat wisatawan merasa nyaman sejak awal kedatangan.
Indonesia masih menghadapi tantangan dalam hal ini. Banyak destinasi unggulan belum didukung akses langsung penerbangan internasional. Wisatawan sering kali harus transit beberapa kali untuk mencapai lokasi tujuan, yang tentu mengurangi daya tarik dibandingkan negara tetangga.
Infrastruktur dan Kenyamanan Wisatawan
Malaysia unggul dalam menghadirkan pengalaman wisata yang praktis dan nyaman. Infrastruktur penunjang seperti transportasi umum, papan informasi, toilet publik, hingga pusat informasi wisata relatif mudah ditemukan dan terawat.
Di Indonesia, kualitas infrastruktur pariwisata belum merata. Beberapa destinasi unggulan memang sudah berkembang pesat, namun masih banyak lokasi potensial yang terkendala akses jalan, fasilitas umum, dan pengelolaan lingkungan. Ketimpangan ini membuat pengalaman wisatawan asing tidak selalu konsisten.
Wisatawan mancanegara cenderung memilih destinasi yang menawarkan kenyamanan tanpa banyak kompromi, bukan sekadar pemandangan indah.
Manajemen Destinasi dan SDM Pariwisata
Keunggulan Malaysia juga terlihat pada pengelolaan destinasi dan kualitas sumber daya manusia di sektor pariwisata. Pelaku industri, mulai dari petugas bandara hingga staf hotel, umumnya memiliki standar pelayanan yang seragam dan profesional.
Pelatihan SDM dilakukan secara berkelanjutan dengan fokus pada pelayanan internasional. Bahasa asing, keramahan, dan kecepatan layanan menjadi nilai jual utama.
Indonesia masih berproses dalam meningkatkan kualitas SDM pariwisata secara merata. Banyak daerah memiliki potensi besar, tetapi belum didukung tenaga profesional yang cukup, terutama di luar destinasi populer.
Stabilitas Kebijakan dan Fokus Jangka Panjang
Malaysia relatif konsisten dalam menjadikan pariwisata sebagai sektor strategis jangka panjang. Kebijakan lintas kementerian diselaraskan untuk mendukung industri ini, mulai dari transportasi, imigrasi, hingga promosi investasi pariwisata.
Di Indonesia, kebijakan pariwisata kerap berubah mengikuti dinamika pemerintahan dan kondisi ekonomi. Hal ini berdampak pada ketidakpastian bagi pelaku industri dan investor, sehingga pengembangan destinasi berjalan tidak optimal.
Potensi Besar Indonesia yang Belum Maksimal
Meski tertinggal dari Malaysia dalam angka kunjungan, Indonesia sejatinya memiliki modal yang jauh lebih besar. Keanekaragaman alam, budaya, kuliner, dan pengalaman autentik menjadi kekuatan yang sulit ditandingi negara lain.
Namun potensi tersebut membutuhkan pengelolaan yang lebih serius, konsisten, dan berbasis data. Tanpa perbaikan promosi, infrastruktur, dan pelayanan, Indonesia akan terus menjadi “negara transit wisatawan” alih-alih tujuan utama.
Dengan strategi yang tepat dan fokus jangka panjang, kesenjangan pariwisata antara Indonesia dan Malaysia bukan tidak mungkin untuk dipersempit, bahkan dibalikkan.

Cek Juga Artikel Dari Platform revisednews.com
