Malioboro Jadi Magnet Wisata Libur Panjang
Kawasan Malioboro kembali menjadi magnet utama wisatawan sejak awal masa libur Natal dan Tahun Baru. Lonjakan kunjungan terlihat dari padatnya trotoar pejalan kaki hingga arus kendaraan yang bergerak pelan di sepanjang koridor jalan. Baik wisatawan lokal maupun luar daerah memadati kawasan ini untuk berbelanja oleh-oleh, menikmati suasana kota, hingga sekadar berjalan santai.
Kepadatan ini menjadi pemandangan khas setiap musim liburan panjang. Malioboro yang berada di jantung Kota Yogyakarta menawarkan kombinasi wisata belanja, sejarah, dan ruang publik yang mudah dijangkau, menjadikannya tujuan favorit bagi keluarga maupun wisatawan individu.
Wisata Sejarah Jadi Agenda Utama Pengunjung
Salah satu wisatawan asal Semarang, Yulia Rizky, mengaku kunjungannya ke Malioboro merupakan bagian dari rangkaian wisata sejarah di Kota Jogja. Sebelum menyusuri Malioboro, ia lebih dulu mengunjungi Keraton Yogyakarta, Museum Kereta Kencana, dan Museum Sonobudoyo.
Menurut Yulia, pengalaman melihat langsung situs sejarah memberikan pemahaman yang lebih mendalam dibandingkan sekadar membaca buku. Ia menilai wisata sejarah di Jogja memiliki nilai edukasi sekaligus rekreasi, sehingga membuat liburannya terasa lebih bermakna.
Belanja Oleh-Oleh Tetap Jadi Daya Tarik
Selain wisata sejarah, aktivitas belanja tetap menjadi agenda wajib di Malioboro. Yulia mengaku menyempatkan diri membeli celana batik dan bakpia sebagai oleh-oleh untuk keluarga. Karena sering berkunjung ke Jogja, ia bahkan sudah memiliki toko langganan yang biasa didatangi setiap kali ke Malioboro.
Hal serupa juga dirasakan oleh wisatawan lain, Hani, asal Bekasi. Ia datang ke Malioboro untuk melihat kondisi kawasan sekaligus mencari batik. Libur sekolah anak-anak dimanfaatkan Hani untuk pulang kampung ke Yogyakarta, sekaligus menikmati suasana kota yang selalu ramai saat musim liburan.
Libur Sekolah Dorong Lonjakan Wisata Keluarga
Menurut Hani, keputusan menghabiskan liburan di Jogja juga karena faktor keluarga. Ia memilih tinggal di rumah orang tuanya selama masa libur sekolah dan berencana menetap hingga awal Januari. Pola ini dinilai cukup umum terjadi, di mana wisatawan yang memiliki keluarga di Jogja memanfaatkan momen liburan panjang untuk pulang sekaligus berwisata.
Kondisi tersebut turut berkontribusi pada meningkatnya kepadatan di Malioboro, terutama pada siang hingga malam hari, ketika wisatawan mulai keluar untuk berjalan-jalan dan berbelanja.
Pemkot Jogja Antisipasi Lonjakan Wisatawan
Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Wahyu Hendratmoko, menyebut wisatawan diperkirakan mulai memasuki Kota Jogja sejak 22 Desember. Momentum libur kali ini dinilai cukup spesial karena bertepatan dengan rangkaian hari libur panjang hingga awal Januari.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Pemkot Jogja. Pemerintah harus memastikan lonjakan wisatawan ini memberikan kesan positif dan memperkuat citra Yogyakarta sebagai destinasi wisata ramah dan nyaman.
City Beautification dan Ornamen Nataru
Untuk menyambut wisatawan, Pemkot Jogja melakukan berbagai upaya, salah satunya melalui city beautification. Ornamen Natal dipasang di koridor Jalan Suroto, sementara ornamen Tahun Baru menghiasi enam titik di kawasan Sumbu Filosofis.
Dekorasi tersebut menarik perhatian wisatawan dan kerap dimanfaatkan sebagai latar swafoto. Kehadiran ornamen ini dinilai mampu menambah daya tarik visual kawasan kota sekaligus menciptakan suasana liburan yang khas.
Promosi Agenda Wisata Sepanjang Tahun
Selain dekorasi, Pemkot Jogja juga memasang rontek informasi calendar of event 2026 yang memuat 151 agenda wisata sepanjang tahun. Langkah ini dilakukan untuk mendorong wisatawan tidak hanya datang saat libur panjang, tetapi juga tertarik berkunjung kembali di waktu lain.
Informasi agenda wisata ini menjadi sarana promosi jangka panjang agar pariwisata Kota Jogja tetap hidup dan berkelanjutan sepanjang tahun.
Pengawasan Ketat Demi Kenyamanan Wisatawan
Pemkot Jogja juga melakukan sosialisasi kepada pelaku industri pariwisata, khususnya hotel dan restoran, agar menerapkan standar pelayanan sesuai arahan pemerintah pusat. Sosialisasi dilakukan secara daring dan luring selama dua pekan menjelang libur Nataru.
Selain itu, monitoring dan evaluasi dilakukan langsung ke destinasi wisata, hotel, dan restoran. Pemerintah menargetkan zero mistake dan zero accident selama masa libur, demi menjaga keselamatan serta kenyamanan wisatawan yang berkunjung.
Pos Layanan Wisata di Kawasan Malioboro
Untuk mendukung layanan wisata, Pemkot Jogja mendirikan pos layanan wisata di kawasan Plaza Malioboro dan Pangurakan. Pos ini menyediakan informasi wisata, koordinasi lintas organisasi perangkat daerah, serta didukung kehadiran musisi jalanan yang telah dikurasi.
Dengan berbagai upaya tersebut, Malioboro diharapkan tetap menjadi ikon wisata Yogyakarta yang ramah, aman, dan berkesan, meski harus menghadapi kepadatan pengunjung selama libur Natal dan Tahun Baru.
Baca Juga : Asep Wahyuwijaya Bangun Jalan Enam Desa di Bogor
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : kabarsantai

