Warga Tulis Minta Kontribusi PLTU untuk Perbaikan Jalan

Berita Lokal

Aspirasi Warga Muncul dalam Kegiatan Sambang Desa

Warga Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, menyampaikan aspirasi terkait dampak aktivitas PLTU Batang terhadap lingkungan dan pembangunan desa. Aspirasi tersebut disampaikan dalam kegiatan Sambang Desa yang digelar di Lapangan Desa Ponowareng dan dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Batang, Suyono.

Dalam forum tersebut, warga menyoroti kondisi infrastruktur jalan desa yang kian rusak akibat intensitas kendaraan berat yang melintas menuju dan dari kawasan PLTU. Jalan yang awalnya berfungsi sebagai akses warga kini harus menanggung beban truk-truk besar, sehingga kualitasnya menurun dan mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat.


Pemkab Batang Tegaskan Sikap Profesional terhadap PLTU

Suyono menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Batang selama ini menjaga hubungan profesional dan harmonis dengan pihak PLTU. Pemerintah daerah, menurutnya, tidak pernah mengganggu operasional PLTU dan tidak pernah meminta bantuan secara pribadi.

Fokus utama Pemkab Batang, kata Suyono, adalah kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, ia berharap kontribusi PLTU dapat disalurkan secara tepat sasaran melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR), khususnya untuk menjawab kebutuhan riil warga desa terdampak.


Perbaikan Jalan Jadi Prioritas Utama Warga

Salah satu aspirasi paling kuat yang disampaikan warga adalah perbaikan jalan desa dan jalan kabupaten yang dilintasi kendaraan berat PLTU. Jalan di Desa Ponowareng dan wilayah sekitarnya dinilai tidak lagi memadai untuk menahan beban lalu lintas truk bertonase besar.

Warga berharap pihak PLTU dapat berkontribusi nyata dalam peningkatan kualitas jalan, termasuk wacana peningkatan status jalan menjadi jalan beton. Langkah ini dianggap penting mengingat jalur tersebut menjadi akses vital bagi masyarakat sekaligus jalur operasional industri berskala besar.


Fly Ash PLTU Dinilai Punya Nilai Ekonomi

Selain persoalan jalan, Suyono juga menyoroti potensi ekonomi dari pemanfaatan fly ash hasil produksi PLTU Batang. Limbah pembakaran batu bara ini mencapai sekitar 200 ribu ton per tahun dan dinilai memiliki peluang besar jika dikelola dengan tepat.

Menurutnya, fly ash dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan batako atau paving block. Dengan dukungan pelatihan kompetensi bagi warga, pengelolaan fly ash berpotensi menciptakan sumber ekonomi baru dan membuka lapangan kerja di sekitar kawasan PLTU.


Dasar Regulasi Pemanfaatan FABA

Usulan pemanfaatan fly ash dan bottom ash (FABA) juga disampaikan oleh perwakilan warga, Darsani. Ia merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021, yang menyatakan bahwa FABA tidak lagi dikategorikan sebagai limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

Dengan dasar regulasi tersebut, Darsani menilai FABA dapat didonasikan kepada masyarakat untuk dimanfaatkan secara produktif. Namun, ia menekankan pentingnya pendampingan dan pelatihan dari instansi terkait agar produk yang dihasilkan memenuhi standar kualitas dan memiliki nilai jual.


Harapan Warga Soal Manfaat Pajak PLTU

Selain infrastruktur dan pemanfaatan limbah, warga juga menyoroti persoalan distribusi manfaat pajak dari keberadaan PLTU Batang. Darsani menyampaikan bahwa beberapa daerah di sekitar PLTU telah merasakan manfaat pajak, sementara desa-desa yang terdampak langsung justru belum mendapatkan dampak pembangunan yang signifikan.

Warga berharap pemerintah daerah dapat mengupayakan agar desa-desa terdampak turut merasakan manfaat tersebut, sehingga pembangunan desa dapat berjalan lebih merata dan berkeadilan.


Kolaborasi Jadi Kunci Pembangunan Berkelanjutan

Melalui kegiatan Sambang Desa, Pemkab Batang berharap aspirasi warga dapat menjadi dasar perumusan kebijakan yang adil dan berkelanjutan. Pemerintah daerah menilai sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan pihak PLTU menjadi kunci utama dalam menciptakan hubungan yang saling menguntungkan.

Kontribusi nyata dari PLTU, baik melalui perbaikan infrastruktur, pemanfaatan fly ash, maupun dukungan ekonomi lainnya, diharapkan mampu memperkuat pembangunan desa dan meningkatkan kesejahteraan warga di sekitar kawasan industri energi tersebut.


Jalan Desa sebagai Simbol Keadilan Pembangunan

Bagi warga Desa Tulis dan sekitarnya, perbaikan jalan bukan sekadar persoalan infrastruktur, melainkan simbol keadilan pembangunan. Jalan yang layak akan memperlancar aktivitas ekonomi, meningkatkan keselamatan, serta memperbaiki kualitas hidup masyarakat.

Dengan dialog terbuka melalui Sambang Desa, aspirasi tersebut kini berada di meja pemerintah daerah. Warga berharap, langkah konkret segera diwujudkan agar keberadaan PLTU Batang benar-benar membawa manfaat nyata bagi desa-desa yang terdampak langsung.

Baca Juga : Malioboro Padat Wisatawan, Jalan Kaki hingga Macet Nataru

Jangan Lewatkan Info Penting Dari : outfit