Jambore LPS Pekanbaru Perkuat Pengelolaan Sampah Berbasis Warga

Berita Lokal

Momentum Baru Pengelolaan Sampah di Pekanbaru

Pengelolaan sampah perkotaan tidak lagi bisa bertumpu sepenuhnya pada pemerintah. Perubahan pola konsumsi masyarakat, pertumbuhan penduduk, serta meningkatnya volume sampah harian menuntut pendekatan baru yang lebih partisipatif. Inilah semangat utama yang tercermin dalam pelaksanaan Jambore Lembaga Pengelola Sampah (LPS) Kota Pekanbaru yang digelar oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) di Taman Wisata Alam Mayang, Sabtu (20/12/2025).

Kegiatan ini menjadi tonggak penting bagi sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kota Pekanbaru, sekaligus menegaskan peran LPS sebagai ujung tombak pelayanan kebersihan di tingkat kelurahan. Tidak sekadar ajang temu rutin, jambore ini dirancang sebagai ruang konsolidasi, refleksi, dan penguatan kapasitas pengelola sampah yang bersentuhan langsung dengan kehidupan warga.

Jambore Tanpa APBD, Bukti Inisiatif Akar Rumput

Salah satu hal yang menonjol dari Jambore LPS 2025 adalah pelaksanaannya yang tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLHK Pekanbaru, Reza Aulia Putra, menyebut kegiatan ini sepenuhnya diinisiasi oleh LPS sendiri sebagai wujud kemandirian dan kepedulian terhadap lingkungan.

Langkah ini mencerminkan transformasi paradigma pengelolaan sampah, dari pendekatan top-down menjadi bottom-up. LPS tidak lagi sekadar pelaksana teknis, melainkan mitra aktif pemerintah yang memiliki inisiatif, gagasan, dan tanggung jawab kolektif terhadap kebersihan kota.

Menurut Reza, jambore ini bertujuan membangun partisipasi aktif masyarakat serta memperkuat koordinasi antara LPS dan pemerintah kota. Dengan soliditas internal yang kuat, diharapkan pengelolaan sampah dapat berjalan lebih efektif, terstruktur, dan berkelanjutan.

Skala dan Kekuatan LPS di Pekanbaru

Hingga akhir 2025, LPS telah terbentuk di 83 kelurahan yang tersebar di 15 kecamatan di Pekanbaru. Total pengurus mencapai 498 orang, didukung 263 unit armada pengangkut sampah dan 789 petugas lapangan yang setiap hari melayani masyarakat.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa LPS bukanlah entitas kecil. Ia adalah sistem sosial yang hidup, bekerja setiap hari, dan menjadi penghubung langsung antara kebijakan kebersihan kota dengan praktik nyata di lapangan. Melalui jambore ini, seluruh elemen LPS dipertemukan untuk saling belajar, berbagi pengalaman, serta memperkuat rasa kebersamaan.

Dalam konteks kota besar seperti Pekanbaru, pengelolaan sampah berbasis masyarakat menjadi kunci. Tanpa keterlibatan warga dan lembaga lokal, persoalan sampah akan terus berulang dan sulit dikendalikan.

Pengukuhan Pengurus dan Pesan Tegas Wali Kota

Dalam kesempatan yang sama, Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho secara resmi mengukuhkan para pengurus LPS. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa LPS merupakan wajah pemerintah kota di mata masyarakat dalam urusan kebersihan.

Pernyataan tersebut mengandung pesan strategis. Ketika LPS bekerja dengan baik, kepercayaan publik terhadap pemerintah akan meningkat. Sebaliknya, jika pelayanan kebersihan tidak optimal, maka pemerintah daerah yang akan menjadi sasaran kritik.

Agung menekankan bahwa LPS bukan lembaga yang dibentuk lalu dibiarkan berjalan sendiri. Pemerintah Kota Pekanbaru, menurutnya, berkomitmen memberikan dukungan penuh untuk meningkatkan kesejahteraan dan kinerja LPS agar pelayanan kebersihan semakin optimal.

Evaluasi Jujur: Kebersihan Baru 60 Persen

Menariknya, Wali Kota juga menyampaikan evaluasi secara terbuka. Meski menerima banyak apresiasi dari masyarakat terkait kondisi kebersihan kota yang membaik, ia mengakui bahwa capaian tersebut belum maksimal.

“Kalau diukur, mungkin baru sekitar 60 persen kebersihan yang berhasil dijaga. Masih ada 40 persen lagi yang harus dibersihkan,” ujarnya.

Pernyataan ini penting karena menunjukkan sikap realistis dan keterbukaan. Alih-alih berpuas diri, pemerintah kota justru menjadikan jambore sebagai momentum evaluasi dan perbaikan. Kekurangan yang ada diposisikan sebagai tantangan bersama antara pemerintah, LPS, dan masyarakat.

Pengelolaan Sampah sebagai Gerakan Sosial

Jambore LPS tidak hanya berbicara soal teknis pengangkutan sampah. Lebih dari itu, kegiatan ini menguatkan pengelolaan sampah sebagai gerakan sosial. Sampah bukan sekadar residu, tetapi cerminan perilaku konsumsi, kedisiplinan, dan kesadaran kolektif warga kota.

Dengan pendekatan berbasis masyarakat, LPS memiliki peran strategis dalam edukasi lingkungan, pengurangan sampah dari sumbernya, serta penguatan budaya pilah sampah. Ketika warga terlibat sejak awal, beban sistem pengelolaan di hilir akan jauh berkurang.

Jambore menjadi ruang penting untuk menanamkan kesadaran bahwa kebersihan kota adalah tanggung jawab bersama, bukan semata urusan petugas atau pemerintah.

Menuju Sistem Kebersihan Kota yang Berkelanjutan

Ke depan, tantangan pengelolaan sampah di Pekanbaru akan semakin kompleks. Pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi berpotensi meningkatkan volume sampah secara signifikan. Tanpa sistem yang adaptif dan partisipatif, kota akan menghadapi risiko lingkungan dan kesehatan yang serius.

Dalam konteks ini, keberadaan LPS menjadi aset strategis. Melalui penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas SDM, serta dukungan kebijakan yang konsisten, LPS dapat menjadi fondasi sistem kebersihan kota yang berkelanjutan.

Jambore LPS 2025 menandai langkah penting menuju arah tersebut. Ia bukan akhir, melainkan awal dari konsolidasi panjang untuk membangun Pekanbaru yang lebih bersih, sehat, dan layak huni.

Penutup

Jambore Lembaga Pengelola Sampah Kota Pekanbaru membuktikan bahwa pengelolaan lingkungan tidak harus selalu dimulai dari anggaran besar. Dengan semangat gotong royong, inisiatif warga, dan dukungan pemerintah yang tepat, perubahan nyata bisa diwujudkan dari tingkat paling dekat dengan masyarakat.

Ketika LPS diperkuat, masyarakat dilibatkan, dan pemerintah bersikap terbuka terhadap evaluasi, maka kebersihan kota bukan lagi sekadar target administratif, melainkan budaya bersama. Dari Pekanbaru, pelajaran penting ini layak menjadi inspirasi bagi kota-kota lain di Indonesia.

Baca Juga : 5 Spot Wisata Healing di Serang untuk Libur Akhir Tahun 2025

Jangan Lewatkan Info Penting Dari : kalbarnews