Desa Wisata Indonesia Bersinar di Panggung Dunia

Berita Lokal

Pengembangan desa wisata akan tetap menjadi salah satu fokus utama pemerintah Indonesia pada 2026. Komitmen ini menegaskan arah pembangunan pariwisata nasional yang tidak hanya berorientasi pada destinasi besar, tetapi juga menyentuh akar komunitas dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat lokal.

“Dengan landasan yang telah dibangun pada 2025, kami akan meneruskan pengembangan Desa Wisata agar manfaat pariwisata menjangkau seluruh lapisan masyarakat,” ujar Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Widiyanti Putri Wardhana.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Jumpa Pers Akhir Tahun 2025 yang digelar di Gedung Sapta Pesona, Jakarta Pusat. Dalam paparannya, Menteri Widiyanti mengungkapkan bahwa sepanjang 2025, sejumlah desa wisata Indonesia berhasil mencatatkan prestasi membanggakan di tingkat internasional, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi pariwisata berbasis komunitas yang berkelanjutan.

Pengakuan Dunia untuk Desa Wisata Indonesia

Tahun 2025 menjadi momentum penting bagi desa wisata Indonesia. Beberapa desa berhasil meraih penghargaan bergengsi dari lembaga internasional, termasuk dari UN Tourism dan ASEAN Tourism Award.

Salah satu capaian tertinggi diraih Desa Wisata Pemuteran di Kabupaten Buleleng, Bali, yang dianugerahi penghargaan UN Tourism Best Tourism Village 2025. Penghargaan ini diberikan kepada desa-desa di dunia yang dinilai berhasil mengembangkan pariwisata berkelanjutan, melestarikan budaya lokal, serta memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat.

Selain itu, Desa Wisata Osing Kemiren di Banyuwangi juga mencatat prestasi internasional dengan meraih UN Tourism Best Tourism Village Upgrade Programme 2025. Program ini diberikan kepada desa wisata yang menunjukkan potensi besar untuk berkembang menjadi destinasi unggulan dunia melalui peningkatan kualitas pengelolaan dan keberlanjutan.

Tak hanya itu, desa wisata Indonesia secara keseluruhan berhasil meraih 15 penghargaan dari ASEAN Tourism Award. Capaian ini menunjukkan konsistensi Indonesia dalam mengembangkan pariwisata desa di tingkat regional Asia Tenggara.

Penguatan Standar dan Sertifikasi Desa Wisata

Selain penghargaan, penguatan kualitas desa wisata juga tercermin dari berbagai program sertifikasi. Sepanjang 2025, tercatat sebanyak 2.885 desa wisata memperoleh sertifikasi Halal Desa Wisata melalui kolaborasi dengan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).

Langkah ini menjadi bagian dari strategi nasional untuk menjadikan desa wisata lebih inklusif dan ramah bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, khususnya wisatawan muslim. Sertifikasi halal memastikan bahwa layanan, produk, dan pengalaman wisata di desa-desa tersebut memenuhi standar yang diakui secara nasional.

Selain sertifikasi halal, lima desa wisata juga berhasil memperoleh Sertifikat Desa Wisata Berkelanjutan. Sertifikat ini menegaskan komitmen desa-desa tersebut dalam menjaga keseimbangan antara aktivitas pariwisata, pelestarian lingkungan, dan keberlanjutan sosial-budaya.

Pemuteran, Bali: Harmoni Laut, Budaya, dan Konservasi

Desa Wisata Pemuteran menjadi contoh nyata bagaimana pariwisata dapat berkembang seiring dengan pelestarian alam dan budaya. Terletak di pesisir utara Bali, Pemuteran dikenal sebagai desa yang memikat wisatawan melalui keindahan bawah laut, ketenangan alam, serta kearifan lokal masyarakatnya.

Pemuteran telah lama mengembangkan ekowisata berbasis komunitas. Masyarakat desa terlibat langsung dalam pengelolaan pariwisata, mulai dari homestay, pemandu wisata, hingga aktivitas konservasi laut. Model ini memastikan bahwa manfaat ekonomi pariwisata dirasakan secara merata oleh warga desa.

Salah satu ikon utama Pemuteran adalah Biorock Pemuteran, kawasan konservasi terumbu karang yang menggabungkan teknologi dan pendekatan tradisional. Melalui metode biorock, struktur terumbu karang buatan diberi arus listrik rendah untuk mempercepat pertumbuhan karang. Inisiatif ini tidak hanya memulihkan ekosistem laut, tetapi juga menjadi daya tarik wisata edukatif yang mendunia.

Keberhasilan Pemuteran menunjukkan bahwa desa wisata tidak harus mengorbankan lingkungan demi pariwisata. Justru sebaliknya, pelestarian alam dapat menjadi kekuatan utama dalam menarik wisatawan berkualitas.

Osing Kemiren, Banyuwangi: Identitas Budaya yang Tetap Hidup

Sementara itu, Desa Wisata Osing Kemiren di Banyuwangi menonjolkan kekuatan budaya sebagai daya tarik utama. Desa ini merupakan pusat budaya Suku Osing, komunitas adat yang memiliki tradisi, bahasa, dan ritual khas yang masih terjaga hingga kini.

Pengembangan pariwisata di Kemiren dilakukan dengan pendekatan yang hati-hati agar tidak menggerus nilai-nilai budaya lokal. Wisatawan diajak untuk mengenal kehidupan masyarakat Osing secara langsung, mulai dari rumah adat, kuliner tradisional, hingga upacara adat yang sarat makna.

Penghargaan UN Tourism BTV Upgrade Programme 2025 menjadi pengakuan atas upaya Kemiren dalam menjaga identitas budaya sekaligus membuka diri terhadap pariwisata. Program ini diharapkan mendorong peningkatan kualitas infrastruktur, layanan wisata, dan kapasitas sumber daya manusia di desa tersebut.

Desa Wisata sebagai Pilar Pariwisata Nasional

Pencapaian desa wisata Indonesia di kancah internasional mencerminkan perubahan paradigma pembangunan pariwisata nasional. Desa wisata tidak lagi dipandang sebagai pelengkap, melainkan sebagai pilar penting dalam strategi pariwisata berkelanjutan.

Melalui desa wisata, pariwisata mampu menjangkau wilayah-wilayah yang sebelumnya kurang tersentuh, sekaligus mengurangi ketimpangan ekonomi antar daerah. Wisatawan juga mendapatkan pengalaman yang lebih autentik, personal, dan bermakna dibandingkan wisata massal.

Menteri Pariwisata Widiyanti menegaskan bahwa pada 2026, pengembangan desa wisata akan terus diperkuat, baik dari sisi pendampingan, promosi, maupun peningkatan kualitas. Pemerintah berharap desa wisata dapat menjadi motor penggerak ekonomi lokal sekaligus etalase budaya dan alam Indonesia di mata dunia.

Menuju Pengakuan Global yang Berkelanjutan

Dari Bali hingga Banyuwangi, keberhasilan desa wisata Indonesia di tingkat internasional membuktikan bahwa pariwisata berbasis komunitas memiliki daya saing global. Dengan pendekatan yang tepat, desa wisata mampu menghadirkan keseimbangan antara ekonomi, budaya, dan lingkungan.

Ke depan, tantangan utama adalah menjaga konsistensi dan kualitas pengelolaan. Namun, dengan fondasi yang telah dibangun pada 2025, desa wisata Indonesia memiliki peluang besar untuk terus bersinar dan menjadi inspirasi bagi pengembangan pariwisata berkelanjutan di tingkat global.Pengembangan desa wisata akan tetap menjadi salah satu fokus utama pemerintah Indonesia pada 2026. Komitmen ini menegaskan arah pembangunan pariwisata nasional yang tidak hanya berorientasi pada destinasi besar, tetapi juga menyentuh akar komunitas dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat lokal.

“Dengan landasan yang telah dibangun pada 2025, kami akan meneruskan pengembangan Desa Wisata agar manfaat pariwisata menjangkau seluruh lapisan masyarakat,” ujar Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Widiyanti Putri Wardhana.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Jumpa Pers Akhir Tahun 2025 yang digelar di Gedung Sapta Pesona, Jakarta Pusat. Dalam paparannya, Menteri Widiyanti mengungkapkan bahwa sepanjang 2025, sejumlah desa wisata Indonesia berhasil mencatatkan prestasi membanggakan di tingkat internasional, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi pariwisata berbasis komunitas yang berkelanjutan.

Pengakuan Dunia untuk Desa Wisata Indonesia

Tahun 2025 menjadi momentum penting bagi desa wisata Indonesia. Beberapa desa berhasil meraih penghargaan bergengsi dari lembaga internasional, termasuk dari UN Tourism dan ASEAN Tourism Award.

Salah satu capaian tertinggi diraih Desa Wisata Pemuteran di Kabupaten Buleleng, Bali, yang dianugerahi penghargaan UN Tourism Best Tourism Village 2025. Penghargaan ini diberikan kepada desa-desa di dunia yang dinilai berhasil mengembangkan pariwisata berkelanjutan, melestarikan budaya lokal, serta memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat.

Selain itu, Desa Wisata Osing Kemiren di Banyuwangi juga mencatat prestasi internasional dengan meraih UN Tourism Best Tourism Village Upgrade Programme 2025. Program ini diberikan kepada desa wisata yang menunjukkan potensi besar untuk berkembang menjadi destinasi unggulan dunia melalui peningkatan kualitas pengelolaan dan keberlanjutan.

Tak hanya itu, desa wisata Indonesia secara keseluruhan berhasil meraih 15 penghargaan dari ASEAN Tourism Award. Capaian ini menunjukkan konsistensi Indonesia dalam mengembangkan pariwisata desa di tingkat regional Asia Tenggara.

Penguatan Standar dan Sertifikasi Desa Wisata

Selain penghargaan, penguatan kualitas desa wisata juga tercermin dari berbagai program sertifikasi. Sepanjang 2025, tercatat sebanyak 2.885 desa wisata memperoleh sertifikasi Halal Desa Wisata melalui kolaborasi dengan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).

Langkah ini menjadi bagian dari strategi nasional untuk menjadikan desa wisata lebih inklusif dan ramah bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, khususnya wisatawan muslim. Sertifikasi halal memastikan bahwa layanan, produk, dan pengalaman wisata di desa-desa tersebut memenuhi standar yang diakui secara nasional.

Selain sertifikasi halal, lima desa wisata juga berhasil memperoleh Sertifikat Desa Wisata Berkelanjutan. Sertifikat ini menegaskan komitmen desa-desa tersebut dalam menjaga keseimbangan antara aktivitas pariwisata, pelestarian lingkungan, dan keberlanjutan sosial-budaya.

Pemuteran, Bali: Harmoni Laut, Budaya, dan Konservasi

Desa Wisata Pemuteran menjadi contoh nyata bagaimana pariwisata dapat berkembang seiring dengan pelestarian alam dan budaya. Terletak di pesisir utara Bali, Pemuteran dikenal sebagai desa yang memikat wisatawan melalui keindahan bawah laut, ketenangan alam, serta kearifan lokal masyarakatnya.

Pemuteran telah lama mengembangkan ekowisata berbasis komunitas. Masyarakat desa terlibat langsung dalam pengelolaan pariwisata, mulai dari homestay, pemandu wisata, hingga aktivitas konservasi laut. Model ini memastikan bahwa manfaat ekonomi pariwisata dirasakan secara merata oleh warga desa.

Salah satu ikon utama Pemuteran adalah Biorock Pemuteran, kawasan konservasi terumbu karang yang menggabungkan teknologi dan pendekatan tradisional. Melalui metode biorock, struktur terumbu karang buatan diberi arus listrik rendah untuk mempercepat pertumbuhan karang. Inisiatif ini tidak hanya memulihkan ekosistem laut, tetapi juga menjadi daya tarik wisata edukatif yang mendunia.

Keberhasilan Pemuteran menunjukkan bahwa desa wisata tidak harus mengorbankan lingkungan demi pariwisata. Justru sebaliknya, pelestarian alam dapat menjadi kekuatan utama dalam menarik wisatawan berkualitas.

Osing Kemiren, Banyuwangi: Identitas Budaya yang Tetap Hidup

Sementara itu, Desa Wisata Osing Kemiren di Banyuwangi menonjolkan kekuatan budaya sebagai daya tarik utama. Desa ini merupakan pusat budaya Suku Osing, komunitas adat yang memiliki tradisi, bahasa, dan ritual khas yang masih terjaga hingga kini.

Pengembangan pariwisata di Kemiren dilakukan dengan pendekatan yang hati-hati agar tidak menggerus nilai-nilai budaya lokal. Wisatawan diajak untuk mengenal kehidupan masyarakat Osing secara langsung, mulai dari rumah adat, kuliner tradisional, hingga upacara adat yang sarat makna.

Penghargaan UN Tourism BTV Upgrade Programme 2025 menjadi pengakuan atas upaya Kemiren dalam menjaga identitas budaya sekaligus membuka diri terhadap pariwisata. Program ini diharapkan mendorong peningkatan kualitas infrastruktur, layanan wisata, dan kapasitas sumber daya manusia di desa tersebut.

Desa Wisata sebagai Pilar Pariwisata Nasional

Pencapaian desa wisata Indonesia di kancah internasional mencerminkan perubahan paradigma pembangunan pariwisata nasional. Desa wisata tidak lagi dipandang sebagai pelengkap, melainkan sebagai pilar penting dalam strategi pariwisata berkelanjutan.

Melalui desa wisata, pariwisata mampu menjangkau wilayah-wilayah yang sebelumnya kurang tersentuh, sekaligus mengurangi ketimpangan ekonomi antar daerah. Wisatawan juga mendapatkan pengalaman yang lebih autentik, personal, dan bermakna dibandingkan wisata massal.

Menteri Pariwisata Widiyanti menegaskan bahwa pada 2026, pengembangan desa wisata akan terus diperkuat, baik dari sisi pendampingan, promosi, maupun peningkatan kualitas. Pemerintah berharap desa wisata dapat menjadi motor penggerak ekonomi lokal sekaligus etalase budaya dan alam Indonesia di mata dunia.

Menuju Pengakuan Global yang Berkelanjutan

Dari Bali hingga Banyuwangi, keberhasilan desa wisata Indonesia di tingkat internasional membuktikan bahwa pariwisata berbasis komunitas memiliki daya saing global. Dengan pendekatan yang tepat, desa wisata mampu menghadirkan keseimbangan antara ekonomi, budaya, dan lingkungan.

Ke depan, tantangan utama adalah menjaga konsistensi dan kualitas pengelolaan. Namun, dengan fondasi yang telah dibangun pada 2025, desa wisata Indonesia memiliki peluang besar untuk terus bersinar dan menjadi inspirasi bagi pengembangan pariwisata berkelanjutan di tingkat global.

Baca Juga : 5 Tren Pariwisata 2026 dan Pola Liburan Wisatawan RI

Jangan Lewatkan Info Penting Dari : beritabumi