5 Tren Pariwisata 2026 dan Pola Liburan Wisatawan RI

Berita Lokal

Pariwisata Indonesia memasuki fase baru menuju 2026. Setelah beberapa tahun mengalami fluktuasi besar, pola perjalanan wisatawan kini mulai menunjukkan arah yang lebih stabil dan terdefinisi. Hal ini tercermin dalam laporan Tourism Trends 2025 & Outlook 2026: Redefining The New Shape of Travel yang dirilis tiket.com dan diolah Lokadata.

Chief Strategy Officer tiket.com, Tiffany Tjiptoning, menyebut bahwa sepanjang 2025 terjadi proses “kalibrasi ulang” dalam cara masyarakat Indonesia berwisata. Perjalanan tidak lagi sekadar soal seberapa sering bepergian, tetapi tentang makna, kualitas pengalaman, kebersamaan, serta fleksibilitas waktu.

“Ada banyak tren dan pola perjalanan menarik sepanjang 2025 yang membentuk bagaimana pariwisata berjalan di tahun depan,” ujar Tiffany dalam jumpa pers di Jakarta.

Berdasarkan survei terhadap 1.252 responden, Lokadata mencatat setidaknya ada lima tren utama yang akan membentuk wajah pariwisata Indonesia pada 2026.

1. Family Travel Jadi Orientasi Utama

Tren pertama dan paling dominan adalah menguatnya family travel. Data menunjukkan 48 persen responden memilih bepergian bersama keluarga sebagai pola utama liburan mereka. Angka ini jauh melampaui perjalanan bersama teman (20 persen), solo travel (17 persen), maupun liburan bersama pasangan (14 persen).

Wisatawan Indonesia kini lebih nyaman bepergian dengan lingkaran terdekat. Faktor keamanan, kenyamanan, fleksibilitas, serta kesesuaian preferensi menjadi alasan utama. Liburan tidak hanya dipandang sebagai aktivitas rekreatif, tetapi juga sarana memperkuat koneksi emosional dalam keluarga.

Pola ini menjelaskan mengapa destinasi ramah keluarga, playground, serta akomodasi dengan ruang luas semakin diminati. Family travel diperkirakan tetap menjadi tulang punggung pergerakan wisata domestik sepanjang 2026.

2. Perjalanan Bersifat Moment-Driven

Tren kedua adalah karakter pariwisata Indonesia yang sangat moment-driven. Keputusan bepergian sebagian besar dipicu oleh momen tertentu, seperti long weekend, libur nasional, libur sekolah, hingga promo perjalanan.

Chief Data Officer Lokadata, Suwandi Ahmad, menyebut bahwa momen libur bersama memiliki pengaruh besar terhadap lonjakan permintaan wisata. Wisatawan cenderung spontan, tetapi tetap rasional dalam memanfaatkan waktu libur yang terbatas.

Pola ini membuat industri pariwisata harus semakin adaptif dalam merespons kalender libur dan perilaku konsumen. Fleksibilitas penawaran, promo musiman, dan kemudahan pemesanan menjadi faktor penting dalam menarik minat wisatawan.

3. Short Getaway Jadi Rutinitas Baru

Tren ketiga menunjukkan bahwa short getaway atau liburan singkat semakin menguat. Hampir 70 persen perjalanan wisata berlangsung selama 1–3 hari. Pola ini sejalan dengan kebiasaan masyarakat memanfaatkan long weekend dan libur nasional tanpa mengambil cuti panjang.

Liburan singkat kini menjadi rutinitas yang mudah direncanakan dan tidak mengganggu aktivitas kerja atau sekolah. Wisatawan lebih memilih perjalanan jarak dekat dengan perencanaan sederhana, tetapi tetap memberikan pengalaman menyenangkan.

Pada 2026, pola short getaway diproyeksikan semakin stabil. Perjalanan domestik jarak pendek akan terus mendominasi, terutama dengan dukungan infrastruktur transportasi darat yang semakin baik.

4. Media Sosial Jadi Pintu Inspirasi Liburan

Tren keempat adalah peran media sosial sebagai titik awal inspirasi perjalanan. Data tiket.com mencatat bahwa 9 dari 10 wisatawan Indonesia menggunakan media sosial sebagai referensi utama dalam merencanakan liburan.

TikTok menjadi platform paling berpengaruh dengan 57 persen, disusul Instagram sebesar 34 persen. Konten visual singkat, rekomendasi destinasi, hingga ulasan pengalaman menjadi pemicu utama minat berwisata.

Pola ini menunjukkan bahwa keputusan liburan kini lebih emosional dan visual. Wisatawan tertarik pada pengalaman yang terlihat autentik, menyenangkan, dan relevan dengan gaya hidup mereka. Bagi pelaku industri, kehadiran digital dan storytelling yang kuat menjadi kunci untuk menjangkau calon wisatawan.

5. Kesadaran Wisata Berkelanjutan Menguat

Tren kelima adalah meningkatnya kesadaran terhadap sustainable tourism. Sekitar sepertiga responden mengaku pernah menggunakan fitur pilihan ramah lingkungan dalam perjalanan mereka.

Menariknya, motivasi utama wisatawan bukan semata-mata harga, melainkan nilai personal dan kepuasan emosional. Wisata berkelanjutan dipandang sebagai bentuk kontribusi terhadap lingkungan dan masyarakat lokal.

Tren ini sejalan dengan pandangan Kementerian Pariwisata yang menilai perubahan perilaku wisatawan sebagai sinyal positif. Asisten Deputi Strategi dan Komunikasi Pemasaran Kemenpar, Firnandi Gufron, menyebut bahwa motivasi utama wisatawan nusantara masih didominasi wisata kuliner, disusul wisata belanja, kota dan pedesaan, bahari, serta petualangan.

Pertumbuhan Positif Sepanjang 2025

Kalibrasi ulang pariwisata ini juga tercermin dari data pertumbuhan sepanjang 2025. Seluruh kategori pariwisata mencatat peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Pemesanan transportasi tumbuh 23 persen, akomodasi meningkat 20 persen, dan atraksi wisata melonjak hingga 38 persen.

Moda transportasi darat menjadi pilihan utama. Pemesanan kereta api naik 47 persen dan bus meningkat 46 persen. Faktor harga, kemudahan akses, fleksibilitas rute, serta konektivitas antardaerah menjadi alasan utama.

Di sisi akomodasi, non-hotel seperti vila mencatat pertumbuhan signifikan hingga 44 persen. Tren ini berkaitan erat dengan meningkatnya family travel dan kebutuhan ruang yang lebih luas serta privat.

Menuju Pariwisata yang Lebih Stabil di 2026

Lima tren ini menunjukkan bahwa pariwisata Indonesia bergerak menuju fase yang lebih matang. Wisata tidak lagi didorong oleh euforia sesaat, tetapi oleh kebutuhan akan pengalaman yang bermakna, fleksibel, dan berkelanjutan.

Pada 2026, pariwisata domestik diperkirakan tetap menjadi penggerak utama. Family travel, short getaway, inspirasi digital, serta kesadaran lingkungan akan terus membentuk pola liburan wisatawan Indonesia.

Bagi industri pariwisata, memahami perubahan ini menjadi kunci untuk bertahan dan berkembang. Sementara bagi wisatawan, tren ini menegaskan bahwa liburan bukan lagi soal jauh atau mahal, melainkan tentang kualitas waktu dan pengalaman yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Baca Juga : Tren Wisata Indonesia 2025 Berburu Playground Lokal

Jangan Lewatkan Info Penting Dari : ketapangnews