jalanjalan-indonesia.com Nama Frankenstein kembali ramai dibicarakan setelah Netflix merilis versi terbaru film klasik karya sutradara ternama Guillermo del Toro. Adaptasi ini diambil dari novel legendaris karya Mary Shelley yang telah menjadi ikon dalam dunia sastra dan film horor selama lebih dari dua abad. Namun kali ini, kisah sang monster hadir dalam visual yang jauh lebih emosional dan memukau.
Guillermo del Toro menghadirkan pendekatan yang berbeda. Ia tidak sekadar menampilkan horor dan kegelapan, tetapi juga sisi kemanusiaan dari sosok Frankenstein. Selain akting yang menawan dari para pemeran, aspek visual dan lokasi syutingnya menjadi daya tarik tersendiri. Para penggemar film dan pelancong pun mulai mencari tahu di mana kisah kelam dan indah ini dihidupkan.
Dari Toronto Menuju Dunia Imajinasi Gothic
Sebagian besar pengambilan gambar Frankenstein dilakukan di studio Toronto, Kanada. Kota ini sudah lama dikenal sebagai pusat industri film karena infrastrukturnya lengkap dan suasananya mudah diadaptasi menjadi berbagai latar cerita. Beberapa set diubah menyerupai kota-kota Eropa dengan nuansa abad ke-19, lengkap dengan arsitektur batu bata, jembatan tua, dan jalanan berkabut.
Bagi penggemar film yang ingin berkunjung, studio film di Toronto sering membuka tur khusus untuk wisatawan. Pengunjung bisa melihat langsung bagaimana tim produksi menciptakan atmosfer gothic khas karya del Toro. Suasana pencahayaan, desain set, dan efek kabut buatan menghadirkan sensasi berada di dunia Frankenstein sungguhan.
Tak hanya Toronto, inspirasi visual film ini juga datang dari berbagai lokasi bersejarah di Eropa. Del Toro, yang terkenal dengan gaya artistiknya yang kaya detail, kerap menjelajahi lokasi dunia nyata untuk mendapatkan referensi desain.
Pegunungan Alpen, Latar Alam yang Mistik
Novel Frankenstein karya Mary Shelley berlatar di kawasan Pegunungan Alpen, dan del Toro setia mempertahankan semangat itu dalam filmnya. Meski syuting utama dilakukan di Kanada, tim produksi banyak mengambil referensi dari lanskap Alpen Swiss dan Austria.
Pegunungan berselimut salju, danau jernih, serta lembah berkabut menjadi gambaran utama keindahan sekaligus kesepian yang melingkupi film ini. Wisatawan yang ingin merasakan suasana serupa bisa berkunjung ke wilayah Interlaken di Swiss atau Hallstatt di Austria. Kedua tempat ini menyajikan panorama alam yang menenangkan namun tetap misterius, cocok untuk pencinta film dengan atmosfer romantis nan gelap.
Melihat pemandangan tersebut, mudah membayangkan bagaimana sang sutradara mendapatkan inspirasi visual yang kuat. Perpaduan antara keindahan alam dan kesan sunyi di pegunungan ini benar-benar mencerminkan jiwa Frankenstein.
Praha dan Arsitektur Gothic yang Memikat
Selain alam terbuka, kota Praha di Republik Ceko menjadi salah satu sumber inspirasi penting bagi del Toro. Kota ini dikenal dengan arsitektur gothic dan barok yang masih terjaga dengan baik. Jalan-jalan berbatu, menara tinggi, dan jembatan tua di atas Sungai Vltava memberikan nuansa klasik yang menakjubkan.
Beberapa adegan dalam Frankenstein mengambil referensi dari suasana Praha lama, terutama dalam desain laboratorium dan kastil misterius yang menjadi tempat sang ilmuwan menciptakan monster. Pengunjung yang berwisata ke Praha bisa merasakan sensasi seolah berada dalam film, terutama saat menyusuri kawasan Mala Strana atau Old Town Square pada malam hari.
Di kota ini, sejumlah kafe dan toko buku juga memajang karya-karya Mary Shelley dan memorabilia bertema Frankenstein. Ini menjadikan Praha bukan hanya destinasi wisata budaya, tetapi juga tempat ziarah bagi pencinta sastra dan sinema gothic.
Venesia dan Nuansa Romantis yang Tragis
Guillermo del Toro juga dikenal memiliki hubungan erat dengan Italia, terutama Venesia. Kota kanal ini beberapa kali menjadi sumber inspirasi dalam karya-karyanya. Dalam Frankenstein, ia menambahkan sentuhan visual yang mengingatkan pada keindahan Venesia yang melankolis—romantis sekaligus menyimpan misteri.
Kanal-kanal sempit, jembatan tua, dan cahaya lampu malam yang memantul di air menjadi elemen sinematik yang kuat. Wisatawan yang berkunjung ke Venesia dapat merasakan keindahan ini sambil berlayar dengan gondola. Di balik romantisme kota, terselip kesan sunyi yang senada dengan kisah Frankenstein—tentang penciptaan, kesepian, dan pencarian jati diri.
Paris dan Spirit Ilmiah Abad ke-19
Sebagai kota yang melahirkan banyak pemikir dan ilmuwan, Paris turut memberi inspirasi dalam film ini. Beberapa adegan dengan nuansa laboratorium dan penelitian ilmiah diadaptasi dari sejarah Paris pada masa revolusi industri. Museum seperti Musée des Arts et Métiers menjadi tempat yang tepat bagi penggemar film untuk memahami semangat eksperimen dan sains yang menjadi latar utama kisah ini.
Bagi wisatawan, Paris menawarkan pengalaman lengkap. Dari jalanan tua di kawasan Latin Quarter hingga Menara Eiffel yang bersinar di malam hari, semuanya bisa menjadi perjalanan reflektif tentang hubungan manusia, teknologi, dan ambisi—tema yang sangat kuat dalam kisah Frankenstein.
Rekomendasi Rute Traveling Bertema Frankenstein
Bagi kamu yang ingin menjadikan film ini sebagai inspirasi liburan 2026, rencanakan rute perjalanan bertema Frankenstein Tour. Mulailah dari Toronto untuk melihat lokasi syuting utama, lanjut ke Swiss untuk menikmati keindahan Alpen, lalu menuju Praha dan Venesia untuk menelusuri atmosfer gothic khas film. Tutup perjalananmu di Paris, tempat di mana semangat ilmu pengetahuan dan seni bertemu.
Perjalanan ini bukan hanya wisata biasa. Ini adalah pengalaman sinematik yang memadukan keindahan alam, sejarah, dan imajinasi. Kamu tidak hanya mengikuti jejak film, tetapi juga memahami pesan mendalam tentang kemanusiaan yang menjadi inti dari kisah Frankenstein.

Cek Juga Artikel Dari Platform podiumnews.online
