jalanjalan-indonesia – Pemerintah Kota Yogyakarta mulai melakukan uji coba penerapan kawasan pedestrian penuh 24 jam di Malioboro, langkah yang disebut sebagai bagian dari upaya menjadikan ikon wisata tersebut lebih ramah pejalan kaki dan berkelanjutan. Program ini disambut antusias masyarakat, meskipun juga menimbulkan sejumlah pertanyaan terkait akses kendaraan, transportasi umum, dan dampak terhadap pelaku usaha di kawasan itu.
- Kebijakan Baru Uji Coba Full Pedestrian
Mulai awal bulan ini, sepanjang Jalan Malioboro diberlakukan sebagai zona pedestrian penuh selama 24 jam, menggantikan sistem sebelumnya yang hanya berlaku di jam-jam tertentu. Selama masa uji coba, kendaraan bermotor tidak diizinkan melintas kecuali untuk keperluan darurat dan logistik yang sudah dijadwalkan. Pemerintah daerah menilai langkah ini penting untuk mengembalikan fungsi utama Malioboro sebagai ruang publik dan destinasi wisata sejarah yang nyaman bagi warga dan turis. - Rekayasa Lalu Lintas dan Area Parkir Baru
Untuk mendukung kebijakan tersebut, Dinas Perhubungan Yogyakarta menerapkan rekayasa lalu lintas di sekitar Malioboro. Akses kendaraan dialihkan ke jalur alternatif di Jalan Mataram dan Jalan Pasar Kembang, sementara beberapa kantong parkir baru disiapkan di area Abu Bakar Ali dan Ngabean. Pemerintah juga menyiapkan shuttle bus kecil dan becak kayuh untuk membantu wisatawan mencapai titik utama Malioboro tanpa mengurangi suasana pedestrian. Dengan sistem ini, arus wisatawan diharapkan tetap lancar tanpa mengganggu ketertiban jalan. - Respon Pelaku Usaha dan Warga
Kebijakan ini mendapat tanggapan beragam dari pelaku usaha di sepanjang Malioboro. Sebagian pedagang kaki lima dan pemilik toko mengaku khawatir kehilangan pelanggan karena pengunjung tak bisa parkir di depan toko. Namun, sebagian lainnya justru mendukung karena kawasan menjadi lebih tertib, bersih, dan nyaman. Menurut beberapa pedagang, jumlah pengunjung pejalan kaki meningkat pada malam hari, terutama wisatawan domestik yang datang untuk menikmati suasana Malioboro yang kini lebih santai tanpa bising kendaraan. - Dampak terhadap Pariwisata dan Lingkungan
Dinas Pariwisata DIY menyebut uji coba pedestrian penuh ini juga bagian dari strategi pariwisata berkelanjutan. Dengan berkurangnya kendaraan bermotor di pusat kota, tingkat kebisingan dan polusi udara turun signifikan. Selain itu, langkah ini sejalan dengan misi menjadikan Yogyakarta sebagai kota wisata hijau yang menonjolkan budaya dan pengalaman berjalan kaki. Jika dinilai berhasil, konsep serupa akan diterapkan di beberapa titik lain, seperti kawasan Kotabaru dan Tugu Pal Putih. - Evaluasi dan Rencana Permanen ke Depan
Selama masa uji coba, pemerintah akan memantau kondisi lalu lintas, tingkat kunjungan, serta respons masyarakat melalui survei dan forum dialog dengan pelaku usaha. Evaluasi ini akan menentukan apakah kebijakan Malioboro full pedestrian 24 jam akan diberlakukan permanen. Selain itu, pemerintah juga tengah menyiapkan penambahan fasilitas pendukung, seperti lampu jalan artistik, area duduk, tempat pertunjukan seni, dan sistem keamanan terpadu berbasis CCTV.
Kawasan Malioboro telah lama menjadi jantung pariwisata Yogyakarta—tempat bertemunya budaya, ekonomi rakyat, dan kenangan wisatawan. Uji coba pedestrian penuh 24 jam ini menjadi momentum penting dalam memperkuat identitas Malioboro sebagai ruang publik yang humanis dan inklusif. Bila berhasil, Yogyakarta berpeluang menjadi contoh kota yang mampu menyeimbangkan pelestarian budaya dengan modernisasi tata kota.

